TAHAPAN PEMBENTUKAN PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI
(1) Tahapan pembentukan Peraturan BNSP dilakukan dengan tahapan:
a. perencanaan;
b. penyusunan;
c. pembahasan pleno;
d. Pengharmonisasian;
e. penetapan;
f. pengundangan;
g. pendokumentasian; dan
h. penyebarluasan.
(2) Tahapan pembentukan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh Sekretariat BNSP.
Kepala Sekretariat BNSP mengoordinasikan perencanaan pembentukan Peraturan BNSP paling lambat pada bulan November setiap tahun.
Pemrakarsa mengajukan usulan perencanaan pembentukan Peraturan BNSP berdasarkan:
a. UNDANG-UNDANG;
b. PERATURAN PEMERINTAH;
c. peraturan PRESIDEN;
d. putusan Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi;
e. rencana kerja pemerintah; dan/atau
f. kebutuhan hukum masyarakat.
(1) Pemrakarsa menyusun usulan perencanaan pembentukan Peraturan BNSP yang akan dimuat dalam Progsun Peraturan BNSP.
(2) Usulan perencanaan pembentukan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan Naskah Urgensi dan rancangan Peraturan BNSP.
(3) Naskah Urgensi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) paling sedikit memuat:
a. judul rancangan Peraturan BNSP;
b. urgensi dan tujuan penyusunan;
c. sasaran yang ingin diwujudkan;
d. pokok pikiran, lingkup, dan objek yang akan diatur;
dan
e. jangkauan dan arah pengaturan.
(4) Format Naskah Urgensi sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan BNSP ini.
(5) Format rancangan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan BNSP ini.
(1) Pemrakarsa menyampaikan usulan perencanaan pembentukan Peraturan BNSP secara tertulis kepada Ketua melalui Kepala Sekretariat BNSP.
(2) Kepala Sekretariat BNSP melakukan verifikasi administrasi dan kelengkapan dokumen terhadap usulan perencanaan pembentukan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Hasil verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan dalam rapat koordinasi dengan Pemrakarsa untuk menentukan Progsun Peraturan BNSP.
(1) Hasil rapat koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) berupa rancangan Progsun Peraturan BNSP.
(2) Kepala Sekretariat BNSP menyampaikan rancangan Progsun Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Ketua untuk mendapatkan persetujuan dalam rapat pleno BNSP.
(3) Ketua MENETAPKAN Progsun Peraturan BNSP yang telah mendapatkan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam rapat pleno BNSP.
(4) Progsun Peraturan BNSP ditetapkan oleh Ketua paling lambat pada bulan Desember.
(5) Rancangan Peraturan BNSP yang telah ditetapkan dalam Progsun Peraturan BNSP diselesaikan paling lama 1 (satu) tahun sejak Progsun Peraturan BNSP ditetapkan.
(6) Dalam hal rancangan Peraturan BNSP yang telah ditetapkan dalam Progsun Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum selesai pada tahun berjalan, dapat dilakukan pengusulan kembali 1 (satu) kali dalam Progsun Peraturan BNSP tahun berikutnya.
(1) Dalam keadaan tertentu, Pemrakarsa dapat mengajukan rancangan Peraturan BNSP di luar Prugsun Peraturan BNSP berdasarkan izin prakarsa dari Ketua.
(2) Keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
atau
b. kebutuhan organisasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Pengajuan usulan rancangan Peraturan BNSP di luar Progsun Peraturan BNSP disampaikan oleh Pemrakarsa kepada Ketua BNSP melalui Kepala Sekretariat BNSP untuk mendapatkan persetujuan izin prakarsa.
(4) Dalam hal Ketua memberikan izin prakarsa sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), Pemrakarsa melakukan penyusunan rancangan Peraturan BNSP.
(1) Penyusunan rancangan Peraturan BNSP dilakukan oleh tim penyusun berdasarkan Progsun Peraturan BNSP dan/atau izin prakarsa.
(2) Tim penyusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Ketua BNSP.
(3) Tim penyusun rancangan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri dari:
a. Pemrakarsa;
b. anggota yang membidangi hukum;
c. Wakil Ketua dan/atau Anggota;
d. Sekretariat BNSP; dan
e. Perancang Peraturan Perundang-undangan.
(4) Penyusunan rancangan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dapat mengikutsertakan kementerian/lembaga, Analis Hukum, pejabat fungsional lainnya sesuai kebutuhan, pakar, praktisi, akademisi, dan/atau pemangku kepentingan lain.
(5) Hasil penyusunan rancangan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis oleh Pemrakarsa kepada Kepala Sekretariat BNSP.
(1) Berdasarkan penyampaian hasil penyusunan rancangan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (5), Kepala Sekretariat BNSP membahas rancangan Peraturan BNSP yang disampaikan oleh Pemrakarsa.
(2) Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mengikutsertakan:
a. Pemrakarsa;
b. tim penyusun;
c. sekretariat direktorat jendral yang mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan kompetensi dan daya saing tenaga kerja serta produktivitas, kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan; dan
d. biro yang mempunyai tugas melaksanakan koordinasi, pembinaan penyusunan peraturan perundang-undangan, penelaahan hukum, advokasi, pemberian pertimbangan hukum, serta dokumentasi dan informasi hukum, kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan.
(3) Pembahasan rancangan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dapat mengikutsertakan kementerian/lembaga, Analis Hukum, pejabat fungsional lainnya sesuai kebutuhan, pakar, praktisi, akademisi, dan/atau pemangku kepentingan lain.
(4) Pembahasan rancangan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan untuk menyelaraskan rancangan Peraturan BNSP dengan kebijakan BNSP dan peraturan perundang-undangan.
(1) Kepala Sekretariat BNSP menyampaikan hasil pembahasan rancangan Peraturan BNSP yang telah disepakati kepada Ketua untuk mendapatkan persetujuan dalam rapat pleno BNSP.
(2) Rancangan Peraturan BNSP yang telah mendapatkan persetujuan rapat pleno BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibubuhkan paraf persetujuan dari Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota.
(1) Ketua mengajukan permohonan Pengharmonisasian kepada menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum melalui Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan.
(2) Permohonan Pengharmonisasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan dengan melampirkan:
a. Naskah Urgensi; dan
b. rancangan Peraturan BNSP.
(3) Pengharmonisasian rancangan Peraturan BNSP dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Rancangan Peraturan BNSP yang telah selesai dilakukan Pengharmonisasian, dilakukan proses penetapan oleh Ketua.
(2) Penetapan oleh Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 25 (dua puluh lima) hari kalender sejak tanggal surat penyampaian hasil Pengharmonisasian.
(3) Dalam proses penetapan oleh Ketua, Sekretariat BNSP menyiapkan 3 (tiga) naskah asli rancangan Peraturan BNSP.
(4) Salah satu dari 3 (tiga) naskah asli sebagaimana dimaksud pada ayat (3) pada halaman penetapan, dibubuhkan paraf persetujuan dari:
a. Ketua;
b. Wakil Ketua;
c. seluruh Anggota; dan
d. Kepala Sekretariat BNSP.
(5) Kepala Sekretariat BNSP menyampaikan permohonan penetapan kepada Ketua disertai dengan 2 (dua) naskah asli dan 1 (satu) naskah asli yang telah dibubuhkan paraf persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4).
(1) Naskah asli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat
(3) ditandatangani oleh Ketua.
(2) Naskah asli yang sudah ditandatangani oleh Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan nomor dan tanggal penetapan oleh Sekretariat BNSP.
(1) Ketua menyampaikan permohonan pengundangan Peraturan BNSP yang telah ditetapkan ke dalam Berita Negara
kepada menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum melalui Direktur Jenderal Peraturan Perundang- undangan.
(2) Permohonan pengundangan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat pernyataan tidak terdapat permasalahan secara substansi dan/atau prosedur.
(3) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan melalui aplikasi pengundangan.
(1) Permohonan pengundangan Peraturan BNSP melalui aplikasi pengundangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) disertai dengan dokumen elektronik berupa:
a. naskah asli rancangan Peraturan BNSP;
b. surat selesai harmonisasi; dan
c. berita acara Pengharmonisasian.
(2) Naskah asli rancangan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibubuhi paraf pada setiap lembarnya oleh:
a. pembina atau ketua kelompok kerja Pengharmonisasian peraturan perundang-undangan;
dan
b. Kepala Sekretariat BNSP.
Pengundangan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan Pasal 16 dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Naskah asli Peraturan BNSP yang telah memperoleh nomor Berita Negara Republik INDONESIA dilakukan pendokumentasian oleh Sekretariat BNSP, sebanyak 1 (satu) naskah asli dan sebanyak 1 (satu) naskah asli yang dibubuhi paraf persetujuan.
(2) Naskah asli Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dibuatkan salinan sesuai dengan naskah asli dan ditandatangani oleh Kepala Sekretariat BNSP.
(3) Penandatanganan salinan naskah asli sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan secara elektronik.
(1) Peraturan BNSP yang telah diundangkan dilakukan penyebarluasan dalam bentuk salinan.
(2) Salinan Peraturan BNSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Kepala Sekretariat BNSP kepada:
a. Ketua;
b. Wakil Ketua;
c. Anggota;
d. sekretariat yang mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan, kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan; dan
e. direktorat jenderal yang mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan kompetensi dan daya saing tenaga kerja serta produktivitas, kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan.
Penyebarluasan Peraturan BNSP dilakukan melalui:
a. media cetak;
b. media elektronik;
c. media sosial;
d. sosialisasi; dan/atau
e. penyebarluasan dalam bentuk lainnya.