Peraturan Menteri/Badan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri/Badan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik INDONESIA.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 23 Februari 2026
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
Œ
HANIF FAISOL NUROFIQ
Diundangkan di Jakarta pada tanggal Д
DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM REPUBLIK INDONESIA,
Ѽ
DHAHANA PUTRA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2026 NOMOR Ж
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2026 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH DAN STANDAR TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PAKAN TERNAK DAN PAKAN AKUAKULTUR
BAKU MUTU AIR LIMBAH UNTUK PEMBUANGAN
A.
Menggunakan Sistem Pengolahan Air Limbah Tersendiri dan Dibuang ke Media Air No Parameter Satuan Kadar Paling Tinggi Pakan Ternak Pakan Akuakultur
1. Derajat Keasaman (pH)*)
6-9 6-9
2. Suhu *) oC 38 38
3. Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD) mg/L 50 50
4. Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/L 100 100
5. Total Nitrogen (TN) mg/L 20 20
6. Padatan Tersuspensi Total (TSS) mg/L 30 30
7. Minyak dan Lemak mg/L 10 10
8. Volume Air Limbah Maksimum m3/ton produk 0,1 0,1 Keterangan:
*) = diukur langsung pada titik penaatan.
TN = TN Anorganik (Nitrit sebagai N + Nitrat sebagai N + Amoniak sebagai N) + TN Organik
Contoh cara menghitung debit maksimum:
Debit maksimum dari proses dengan asumsi produksi 1.000 ton/hari (Qi) = 1.000 ton produk/hari x 0,1 m3/ton produk = 100 m3/hari.
B.
Menggunakan Sistem Pengolahan Air Limbah Tersendiri dan Dibuang ke Drainase dan/atau Saluran Irigasi No Parameter Satuan Kadar Paling Tinggi Pakan Ternak Pakan Akuakultur
1. Derajat Keasaman (pH) *)
6-9 6-9
2. Suhu *) oC 38 38
3. Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD) mg/L 12 12
4. Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/L 80 80
5. Total Nitrogen (TN) mg/L 20 20
6. Padatan Tersuspensi Total (TSS) mg/L 30 30 Keterangan:
*) = diukur langsung pada titik penaatan.
TN = TN Anorganik (Nitrit sebagai N + Nitrat sebagai N + Amoniak sebagai N) + TN Organik
C.
Menggunakan Sistem Pengolahan Air Limbah Terintegrasi dan Dibuang ke Drainase dan/atau Saluran Irigasi No Parameter Satuan Kadar Paling Tinggi Pakan Ternak Pakan Akuakultur
1. Derajat Keasaman (pH) *)
6-9 6-9
2. Suhu *) oC 38 38
3. Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD) mg/L 12 12
4. Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/L 80 80
5. Total Nitrogen (TN) mg/L 20 20
6. Padatan Tersuspensi Total (TSS) mg/L 30 30
7. Fecal Coliform **) MPN/100ml 200 200
8. Residual Klorin **)***) mg/L 1 1 Keterangan:
*) = diukur langsung pada titik penaatan.
**) = bila pengolahan Air Limbah digabung dengan Air Limbah domestik.
***) = bila pengolahan Air Limbah domestik menggunakan klorinasi.
TN = TN Anorganik (Nitrit sebagai N + Nitrat sebagai N + Amoniak sebagai N) + TN Organik
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
HANIF FAISOL NUROFIQ
LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2026 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH DAN STANDAR TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PAKAN TERNAK DAN PAKAN AKUAKULTUR
BAKU MUTU AIR LIMBAH UNTUK PEMANFAATAN AIR LIMBAH UNTUK PENYIRAMAN DAN/ATAU PENCUCIAN
A.
Menggunakan Sistem Pengolahan Air Limbah Tersendiri No Parameter Satuan Kadar Paling Tinggi Pakan Ternak Pakan Akuakultur
1. Derajat Keasaman (pH) *)
6-9 6-9
2. Suhu *) oC 38 38
3. Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD) mg/L 12 12
4. Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/L 80 80
5. Padatan Tersuspensi Total (TSS) mg/L 30 30 Keterangan:
*) = diukur langsung pada titik penaatan.
B.
Menggunakan Sistem Pengolahan Air Limbah Terintegrasi No Parameter Satuan Kadar Paling Tinggi Pakan Ternak Pakan Akuakultur
1. Derajat Keasaman (pH) *)
6-9 6-9
2. Suhu *) oC 38 38
3. Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD) mg/L 12 12
4. Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/L 80 80
5. Padatan Tersuspensi Total (TSS) mg/L 30 30
6. Fecal Coliform **) MPN/100ml 200 200
7. Residual Klorin **)***) mg/L 1 1 Keterangan:
*) = diukur langsung pada titik penaatan.
**) = bila pengolahan Air Limbah digabung dengan Air Limbah domestik.
***) = bila pengolahan Air Limbah domestik menggunakan klorinasi.
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
HANIF FAISOL NUROFIQ
LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2026 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH DAN STANDAR TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PAKAN TERNAK DAN PAKAN AKUAKULTUR
BAKU MUTU AIR LIMBAH UNTUK PEMANFAATAN AIR LIMBAH UNTUK MENAHAN INTRUSI AIR LAUT, RESAPAN DI FORMASI ATAS (PERMUKAAN) DAN RESAPAN DI DALAM FORMASI TERTENTU
A.
Sistem Pengolahan Air Limbah Tersendiri No Parameter Satuan Kadar Paling Tinggi Pakan Ternak Pakan Akuakultur
1. Derajat Keasaman (pH) *)
6-9 6-9
2. Suhu *) oC 38 38
3. Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD) mg/L 6 6
4. Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/L 40 40
5. Padatan Tersuspensi Total (TSS) mg/L 20 20
6. Nitrat (sebagai N) mg/l 10 10
7. Padatan Terlarut Total (TDS) mg/L
2.000
2.000 Keterangan:
*) = diukur langsung pada titik penaatan.
B.
Sistem Pengolahan Air Limbah Terintegrasi No Parameter Satuan Kadar Paling Tinggi Pakan Ternak Pakan Akuakultur
1. Derajat Keasaman (pH) *)
6-9 6-9
2. Suhu *) oC 38 38
3. Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD) mg/L 6 6
4. Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/L 40 40
5. Padatan Tersuspensi Total (TSS) mg/L 20 20
6. Nitrat (sebagai N) mg/l 10 10
7. Fecal Coliform **) MPN/100ml 200 200
8. Residual Klorin **)***) mg/L 1 1
9. Padatan Terlarut Total (TDS) mg/L
2.000
2.000 Keterangan:
*) = diukur langsung pada titik penaatan.
**) = bila pengolahan Air Limbah digabung dengan Air Limbah domestik.
***) = bila pengolahan Air Limbah domestik menggunakan klorinasi.
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
HANIF FAISOL NUROFIQ
LAMPIRAN IV PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2026 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH DAN STANDAR TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PAKAN TERNAK DAN PAKAN AKUAKULTUR
PERHITUNGAN BAKU MUTU AIR LIMBAH UNTUK PEMBUANGAN AIR LIMBAH KE MEDIA AIR BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PAKAN TERNAK DAN PAKAN AKUAKULTUR DENGAN SISTEM PENGOLAHAN AIR LIMBAH TERINTEGRASI
Perhitungan Baku Mutu Air Limbah pembuangan Air Limbah ke Media Air pada unit Pengolahan Air Limbah terintegrasi dilakukan untuk mendapatkan nilai:
a. debit Air Limbah paling tinggi; dan
b. kadar Air Limbah gabungan paling tinggi.
Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
A.
Debit Air Limbah Paling Tinggi Debit Air Limbah paling tinggi adalah jumlah debit tertinggi Air Limbah dari masing-masing Usaha dan/atau Kegiatan pakan ternak dan pakan akuakultur dan kegiatan lainnya, seperti yang dinyatakan dalam persamaan berikut:
Keterangan Qmax :
debit Air Limbah paling tinggi, dalam satuan m3/waktu.
Qi :
debit Air Limbah paling tinggi dari kegiatan i, dalam satuan m3/waktu.
Qn :
debit Air Limbah paling tinggi dari kegiatan n, dalam satuan m3/waktu.
B.
Kadar Air Limbah Gabungan Paling Tinggi
1. Untuk parameter yang sama Jika terdapat parameter yang sama dari beberapa jenis sumber Air Limbah, maka penentuan kadar paling tinggi pada parameter yang sama tersebut ditentukan dengan menggunakan metoda neraca massa dengan perhitungan sebagai berikut:
Keterangan Cmax : kadar paling tinggi setiap parameter, dalam satuan mg/L.
Ci : kadar paling tinggi setiap parameter dalam Baku Mutu Air Limbah untuk kegiatan i, dalam satuan mg/L.
Qi : debit paling tinggi Air Limbah kegiatan i, dalam satuan m3/waktu.
……. persamaan (2) ……. persamaan (1)
Cn : kadar paling tinggi setiap parameter dalam Baku Mutu Air Limbah untuk kegiatan n, dalam satuan mg/L.
Qn : debit paling tinggi Air Limbah kegiatan n, dalam satuan m3/waktu.
2. Untuk parameter yang berbeda Penentuan kadar paling tinggi dilakukan dengan ketentuan:
a. perhitungan dilakukan berdasarkan gabungan dari seluruh parameter; dan
b. jika terdapat parameter yang sama, dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus sebagaimana dijabarkan dalam persamaan (2).
Contoh perhitungan integrasi antara Air Limbah pakan ternak dengan Air Limbah domestik:
No Parameter Air Limbah pakan ternak Air Limbah domestik Air Limbah gabungan
1. Derajat Keasaman (pH) 6-9 6-9 6-9
2. Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD) 50 30 40
3. Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) 100 100 100
4. Minyak dan Lemak 10 5 7,5
5. Padatan Tersuspensi Total (TSS) 30 30 30
6. Suhu 38 - 38
7. Total Nitrogen (TN) 20 - 20
8. Amoniak (NH3-N)
10 10
9. Deterjen Total
5 2
10. Sisa Khlorin (Cl2)
1 1
11. Fecal coliform
1.000
1.000
12. Debit 100 100 200
Keterangan (disesuaikan dengan parameter yang ada):
Contoh perhitungan BOD Diketahui:
1. Konsentrasi BOD dari Usaha dan/atau Kegiatan pakan ternak (Ci)= 50 mg/L.
2. Konsentrasi BOD dari kegiatan domestik (Cn) = 30 mg/L.
3. Debit dari Usaha dan/atau Kegiatan pakan ternak dengan asumsi produksi 1.000 ton/hari (Qi) = 100 m3/hari.
4. Debit dari kegiatan domestik (Qn) = 100 m3/hari.
Perhitungan untuk parameter yang sama.
Perhitungan untuk parameter yang berbeda.
Maka nilai Baku Mutu Air Limbah untuk BOD terintegrasi:
= ((50*100)+(30*100))
100+100
= 40 mg/L
Contoh perhitungan COD Diketahui:
1. Konsentrasi COD dari Usaha dan/atau Kegiatan pakan ternak (Ci)= 100 mg/L.
2. Konsentrasi COD dari kegiatan domestik (Cn) = 100 mg/L.
3. Debit dari Usaha dan/atau Kegiatan pakan ternak dengan asumsi produksi 1.000 ton/hari (Qi) = 100 m3/hari.
4. Debit dari kegiatan domestik (Qn) = 100 m3/hari.
Maka nilai Baku Mutu Air Limbah untuk COD terintegrasi:
= ((100*100)+(100*100))
100+100
= 100 mg/L
Contoh perhitungan minyak dan lemak Diketahui:
1. Konsentrasi minyak dan lemak dari Usaha dan/atau Kegiatan pakan ternak (Ci)= 10mg/L.
2. Konsentrasi minyak dan lemak dari kegiatan domestik (Cn) = 5mg/L.
3. Debit dari Usaha dan/atau Kegiatan pakan ternak dengan asumsi produksi 1.000 ton/hari (Qi) = 100 m3/hari.
4. Debit dari kegiatan domestik (Qn) = 100 m3/hari.
Maka nilai Baku Mutu Air Limbah untuk minyak dan lemak terintegrasi:
= ((10*100)+(5*100))
100+100
= 7,5 mg/L
Contoh perhitungan TSS Diketahui:
1. Konsentrasi TSS dari Usaha dan/atau Kegiatan pakan ternak (Ci)= 30 mg/L.
2. Konsentrasi TSS dari kegiatan domestik (Cn) = 30 mg/L.
3. Debit dari Usaha dan/atau Kegiatan pakan ternak dengan asumsi produksi 1.000 ton/hari (Qi) = 100 m3/hari.
4. Debit dari kegiatan domestik (Qn) = 100 m3/hari.
Maka nilai Baku Mutu Air Limbah untuk TSS Terintegrasi:
= ((30*100)+(30*100))
100+100
= 30 mg/L
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
HANIF FAISOL NUROFIQ
LAMPIRAN V PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2026 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH DAN STANDAR TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PAKAN TERNAK DAN PAKAN AKUAKULTUR
STANDAR TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH
A.
Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk Pembuangan ke Media Air Standar teknologi ini ditetapkan berdasarkan:
1. jenis Air Limbah, yaitu Air Limbah pakan ternak dan pakan akuakultur;
2. total debit Air Limbah yang dibuang:
a. <3m3/hari (lebih kecil atau sama dengan tiga meter kubik per hari); dan
b. 3m3/hari<x<50m3/hari (lebih besar tiga meter kubik per hari dan lebih kecil atau sama dengan lima puluh meter kubik per hari).
3. jenis pengelolaan Air Limbah, yaitu pembuangan Air Limbah ke Media Air.
Standar teknologi pembuangan Air Limbah ke Media Air sebagaimana Gambar 1.
Gambar 1. Standar Teknologi Pembuangan Air Limbah ke Media Air
Keterangan:
a) Unit pemisah minyak dan lemak digunakan jika ada potensi air limbah yang mengandung minyak dan lemak.
b) Unit anaerob digunakan jika akan menurunkan kadar COD dan MBAS di awal proses sebelum unit aerobic.
c) Unit anoxic dapat berupa unit tersendiri atau digabung dengan unit anaerobic atau aerobic (dengan menghentikan pasokan udara dengan menghentikan pasokan udara misalkan pada sistem pengolahan Sequencing Batch Reactor).
Bila proses pengolahan biologis menggunakan sistem Sequencing Batch Reactor (SBR), maka unit sedimentasi tidak diperlukan.
d) Unit filtrasi digunakan jika ada potensi Air Limbah mengandung Total Suspended Solid (>30 mg/l), keruh dan berbau.
Kriteria perancangan standar teknologi Pengolahan Air Limbah untuk pembuangan Air Limbah ke Media Air sebagaimana Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria Perancangan Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk Pembuangan Air Limbah ke Media Air No.
Unit Proses Kriteria Satuan Referensi 1 Grease Trap
Kecepatan Aliran 0,021-0,035 m/menit Metcalf & Eddy, 2004
HRT min 30 menit Said & Yudo, 2006 2 Equalization Tank
Waktu Tinggal Dilihat dari beban puncak dibandingkan dengan rata- rata jam Melihat dari pola shift (1 shift = 8 jam) 3 pH Adjusment
Waktu Tinggal 2-5 menit Metcalf & Eddy, 2004 4 Coagulation
Waktu Tinggal 2-5 menit Metcalf & Eddy, 2004 5 Flocculation
Waktu Tinggal 10-20 menit Metcalf & Eddy, 2004 6 Unit Pemisah Partikel
Primary Clarifier
Surface Loading Tipe Konvensional 1-2 m3/m2/jam Metcalf & Eddy, 2004 Surface Loading Tipe Tubesettler 4-8 m3/m2/jam Metcalf & Eddy, 2004
Kedalaman Tipe Konvensional 2,5-5 meter Qasim, 1985
Dissolved Air Flotation
7 Anaerobic Suspended growth
Organic loading rate:
Anaerobic lagoon 1,0–2,0 kg.COD/m3.
hari Metcalf & Eddy, 2004 Anaerobic digester 1,6–4,8 kg.COD/m3.
hari Metcalf & Eddy, 2004;
Davis, 2010 Baffled reactor <3 kg.COD/m3.
hari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2018
No.
Unit Proses Kriteria Satuan Referensi Anaerobic Attacth growth:
Anaerobic filter 0,5-2,5 kg.COD/m3.
hari Metcalf & Eddy, 2004 8 Aerobic Suspended growth
Rasio F/M untuk:
Activated sludge (Extended Aeration) 0,04–0,2 kg.BOD/Kg.
MLVSS/hari Davis, 2010;
Pennsylvania Dept. of Env.
Protection, 2014
Sequencing batch reactor (SBR) 0,05–0,1 kg.BOD/Kg.
MLVSS/hari Metcalf & Eddy, 2004;
Davis, 2010
Membrane bioreactor (MBR) 0,04–0,2 kg.BOD/Kg.
MLVSS/hari Davis, 2010
Aerobic Attached growth Specific Area Loading Rate (SALR)
MBBR 7,5-25 gBOD/m2.h ari Water Environment Federation, 2011
Biofilter 0,5-4 kg.BOD/m3- media/hari Said & Yudo, 2006 9 Secondary Clarifier
Tipe Konvensional Surface Overflow Rate 12-32 m3/m2/hari Metcalf & Eddy, 2014;
Voutchkov, 2017 Tipe Tubesettler 48-196 m3/m2 media/hari Metcalf & Eddy, 2004;
Voutchkov, 2017
Kedalaman Tangki Tipe Konvensional 2,5-5 meter Qasim, 1985.
Referensi:
1. Davis, Mackenzie L., 2010, Water and Wastewater Engineering - Design Principles and Practice, Michigan: McGraw-Hill Companies, Inc.
2. Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2018, Pedoman Perencanaan Teknik Terinci Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat SPALD-T: Buku B, Jakarta: Kementrian PUPR.
3. Metcalf & Eddy Inc., 2003, Wastewater Engineering Treatment and Reuse Fourth Edition, Boston: McGraw-Hill Companies, Inc.
4. Metcalf & Eddy, Inc., AECOM. (2014). Wastewater Engineering:
Treatment and Resource Recovery (5th ed.). McGraw-Hill Education.
5. Qasim, S.R., 1985, Wastewater Treatment Plants: Planning, Design, and Operation, Second Edition, Routledge: Abingdon-on-Thame.
6. Said, N.I., dan Yudo, S., 2006, Rancang Bangun Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) Ayam Dengan Proses Biofilter, JAI 2(1), 83-91.
7. Voutchkov, N., 2017, Fundamentals of Clarifier Performance Monitoring and Control, SunCam Online Education Course.
8. Water Environment Foundation, 2011, Biofilm Reactors: WEF Manual of Practice no. 35, Virginia: WEF Press.
B.
Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk Pembuangan Ke Drainase dan/atau Saluran Irigasi
Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk pembuangan Air Limbah ke drainase dan/atau saluran irigasi ditentukan berdasarkan debit Air Limbah yang akan dibuang, yaitu <3m3/hari (lebih kecil atau sama dengan tiga meter kubik per hari).
Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk pembuangan Air Limbah ke drainase dan/atau saluran irigasi sebagaimana Gambar 2.
Gambar 2. Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk Pembuangan Air Limbah ke Drainase dan/atau Saluran Irigasi
Keterangan:
a. Unit pemisah minyak dan lemak digunakan jika ada potensi Air Limbah yang mengandung minyak dan lemak.
b. Unit anaerob digunakan jika akan menurunkan kadar COD dan MBAS di awal proses sebelum unit aerobic.
c. Unit anoxic dapat berupa unit tersendiri atau digabung dengan unit anaerobic atau aerobic (dengan menghentikan pasokan udara).
d. Unit pemisah lumpur biologi tidak berlaku untuk sistem:
1. Sequencing Batch Reactor (karena pengendapan lumpur biologi terjadi di dalam unit aerobik);
2. Membrane Bio Reactor (karena pemisahan sludge dari Air Limbah terolah sudah dilakukan dengan membran).
e. Unit penampung lumpur diperlukan bila biosludge tidak akan diolah/didegradasi lebih lanjut di unit anaerobik.
f. Unit filtrasi digunakan jika ada potensi Air Limbah mengandung Total Suspended Solid >30mg/l (lebih besar dari tiga puluh milligram per liter) dan keruh.
g. Unit desinfeksi digunakan jika Air Limbah digabung dengan Air Limbah domestik.
Kriteria perancangan standar teknologi Pengolahan Air Limbah untuk pembuangan Air Limbah ke drainase dan/atau saluran irigasi sebagaimana Tabel 2.
Tabel 2. Kriteria Perancangan Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk Pembuangan Air Limbah ke Drainase dan/atau Saluran Irigasi No.
Unit Proses Kriteria Satuan Referensi 1 Grease Trap
Kecepatan Aliran 0,021-0,035 m/menit Metcalf & Eddy, 2004
HRT min 30 menit Nusa Idaman Said, 2002 2 Equalization Tank
Waktu Tinggal Dilihat dari beban puncak dibandingkan dengan rata- rata jam melihat dari pola shift (1 shift = 8 jam) 3 pH Adjusment
Waktu Tinggal 2-5 menit Metcalf & Eddy, 2004 4 Coagulation
Waktu Tinggal 2-5 menit Metcalf & Eddy, 2004 5 Flocculation
Waktu Tinggal 10-20 menit Metcalf & Eddy, 2004 6 Unit Pemisah Partikel
Primary Clarifier
Surface Loading Tipe Konvensional 1-2 m3/m2/ja m Metcalf & Eddy, 2004 Surface Loading Tipe Tubesettler 4-8 m3/m2/ja m Metcalf & Eddy, 2004
No.
Unit Proses Kriteria Satuan Referensi
Kedalaman Tipe Konvensional 2,5-5 meter Qasim, 1985
Dissolved Air Flotation
7 Anaerobic Suspended growth
Organic loading rate:
Anaerobic lagoon 1,0–2,0 kg.COD/ m3.hari Metcalf & Eddy, 2004 Anaerobic digester 1,6–4,8 kg.COD/ m3.hari Metcalf & Eddy, 2004; Davis, 2010 Baffled reactor <3 kg.COD/ m3.hari SPALD-T Buku B, 2018 Anaerobic Attacth growth:
Anaerobic filter 0,5-2,5 kg.COD/ m3.hari Metcalf & Eddy, 2004 8 Aerobic Suspended growth
Rasio F/M untuk:
Activated sludge (Extended Aeration) 0,04–0,2 kg.BOD/ Kg.MLVS S/hari Davis, 2010;
Pennsylvania Dept. of Env.
Protection, 2014
Sequencing batch reactor (SBR) 0,05–0,1 kg.BOD/ Kg.MLVS S/hari Metcalf & Eddy, 2004; Davis, 2010
Membrane bioreactor (MBR) 0,04–0,2 kg.BOD/ Kg.MLVS S/hari Davis, 2010
Aerobic Attached growth Spesific Area Loading Rate (SALR)
MBBR 7,5-25 kg.BOD/ m2media/ hari SPALD-T Buku B, 2018
Biofilter (fixed Media) 0,5–4 kg.BOD/ m3media/ hari Nusa Idaman Said, 2002 9 Secondary Clarifier
Tipe Konvensional Surface Overflow Rate 12–32 m3/m2/h ari Metcalf & Eddy, 2014;
Voutchkov, 2017 Tipe Tubesettler 48-196 m3/m2 media/ha ri Metcalf & Eddy, 2004;
Voutchkov, 2017
Kedalaman Tipe Konvensional 2,5-5 meter Qasim, 1985.
10 Filtration
Kecepatan Aliran Media Filtrasi Lambat 0,1–0,3 m/jam Metcalf & Eddy, 2004
No.
Unit Proses Kriteria Satuan Referensi
Kecepatan Aliran Media Filtrasi Cepat 7–10 m/jam Metcalf & Eddy, 2004
Kecepatan Aliran Media Filtrasi Bertekanan 15–20 m/jam Metcalf & Eddy, 2004
Referensi:
1. Davis, Mackenzie L., 2010, Water and Wastewater Engineering - Design Principles and Practice, Michigan: McGraw-Hill Companies, Inc.
2. Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2018, Pedoman Perencanaan Teknik Terinci Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat SPALD-T: Buku B, Jakarta: Kementrian PUPR.
3. Metcalf & Eddy Inc., 2004, Wastewater Engineering Treatment and Reuse Fourth Edition, Boston: McGraw-Hill Companies, Inc.
4. Metcalf & Eddy, Inc., AECOM. (2014). Wastewater Engineering:
Treatment and Resource Recovery (5th ed.). McGraw-Hill Education.
5. Qasim, S.R., 1985, Wastewater Treatment Plants: Planning, Design, and Operation, Second Edition, Routledge: Abingdon-on-Thame.
6. Said, N.I., dan Yudo, S., 2006, Rancang Bangun Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) Ayam Dengan Proses Biofilter, JAI 2(1), 83-91.
7. Voutchkov, N., 2017, Fundamentals of Clarifier Performance Monitoring and Control, SunCam Online Education Course.
8. Water Environment Foundation, 2011, Biofilm Reactors: WEF Manual of Practice no. 35, Virginia: WEF Press.
C.
Standar Teknologi Pemanfaatan Air Limbah Untuk Penyiraman Dan/Atau Pencucian
Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk penyiraman dan/atau pencucian ditentukan berdasarkan debit Air Limbah yang akan dimanfaatkan, yaitu <3m3/hari (lebih kecil atau sama dengan tiga meter kubik per hari).
Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk penyiraman dan/atau pencucian sebagaimana Gambar 3.
Gambar 3. Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk penyiraman dan/atau pencucian
Keterangan:
a. Unit pemisah minyak dan lemak digunakan jika ada potensi Air Limbah yang mengandung minyak dan lemak.
b. Unit anaerob digunakan jika akan menurunkan kadar COD dan MBAS di awal proses sebelum unit aerobic.
c. Unit anoxic dapat berupa unit tersendiri atau digabung dengan unit anaerobic atau aerobic (dengan menghentikan pasokan udara).
d. Unit pemisah lumpur biologi tidak berlaku untuk sistem:
1. Sequencing Batch Reactor (karena pengendapan lumpur biologi terjadi di dalam unit aerobik);
2. Membrane Bio Reactor (karena pemisahan sludge dari Air Limbah terolah sudah dilakukan dengan membran).
e. Unit penampung lumpur diperlukan bila biosludge tidak akan diolah/didegradasi lebih lanjut di unit anaerobik.
f. Unit filtrasi digunakan jika ada potensi air limbah mengandung Total Suspended Solid >30mg/L (lebih besar dari tiga puluh milligram per liter) dan keruh.
g. Unit desinfeksi digunakan jika Air Limbah digabung dengan Air Limbah domestik.
Kriteria perancangan standar teknologi Pengolahan Air Limbah untuk penyiraman dan/atau pencucian sebagaimana Tabel 3.
Tabel 3. Kriteria Perancangan Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk Penyiraman dan/atau Pencucian No.
Unit Proses Kriteria Satuan Referensi 1 Grease Trap
Kecepatan Aliran 0,021-0,035 m/menit Metcalf & Eddy, 2004
HRT min 30 menit Nusa Idaman Said, 2002 2 Equalization Tank
Waktu Tinggal Dilihat dari beban puncak dibandingkan dengan rata- rata jam melihat dari pola shift (1 shift = 8 jam) 3 pH Adjusment
Waktu Tinggal 2-5 menit Metcalf & Eddy, 2004 4 Coagulation
Waktu Tinggal 2-5 menit Metcalf & Eddy, 2004 5 Flocculation
Waktu Tinggal 10-20 menit Metcalf & Eddy, 2004 6 Unit Pemisah Partikel
Primary Clarifier
Surface Loading Tipe Konvensional 1-2 m3/m2/jam Metcalf & Eddy, 2004 Surface Loading Tipe Tubesettler 4-8 m3/m2/jam Metcalf & Eddy, 2004
Kedalaman Tipe Konvensional 2,5-5 meter Qasim, 1985
Dissolved Air Flotation
7 Anaerobic Suspended growth
Organic loading rate:
Anaerobic lagoon 1,0–2,0 kg.COD/m3.
hari Metcalf & Eddy, 2004 Anaerobic digester 1,6–4,8 kg.COD/m3.
hari Metcalf & Eddy, 2004;
Davis, 2010 Baffled reactor <3 kg.COD/m3.
hari SPALD-T Buku B, 2018 Anaerobic Attacth growth:
Anaerobic filter 0,5-2,5 kg.COD/m3.
hari Metcalf & Eddy, 2004
No.
Unit Proses Kriteria Satuan Referensi 8 Aerobic Suspended growth
Rasio F/M untuk:
Activated sludge (Extended Aeration) 0,04–0,2 kg.BOD/Kg.
MLVSS/hari Davis, 2010;
Pennsylvania Dept. of Env.
Protection, 2014
Sequencing batch reactor (SBR) 0,05–0,1 kg.BOD/Kg.
MLVSS/hari Metcalf & Eddy, 2004;
Davis, 2010
Membrane bioreactor (MBR) 0,04–0,2 kg.BOD/Kg.
MLVSS/hari Davis, 2010
Aerobic Attached growth Spesific Area Loading Rate (SALR)
MBBR 7,5-25 kg.BOD/m2 media/hari SPALD-T Buku B, 2018
Biofilter (fixed Media) 0,5–4 kg.BOD/m3 media/hari Nusa Idaman Said, 2002 9 Secondary Clarifier
Tipe Konvensional Surface Overflow Rate 12–32 m3/m2/hari Metcalf & Eddy, 2014;
Voutchkov, 2017 Tipe Tubesettler 48-196 m3/m2 media/hari Metcalf & Eddy, 2004;
Voutchkov, 2017
Kedalaman Tipe Konvensional 2,5-5 meter Qasim, 1985.
10 Filtration
Kecepatan Aliran Media Filtrasi Lambat 0,1–0,3 m/jam Metcalf & Eddy, 2004
Kecepatan Aliran Media Filtrasi Cepat 7–10 m/jam Metcalf & Eddy, 2004
Kecepatan Aliran Media Filtrasi Bertekanan 15–20 m/jam Metcalf & Eddy, 2004
Referensi:
a. Davis, Mackenzie L., 2010, Water and Wastewater Engineering - Design Principles and Practice, Michigan: McGraw-Hill Companies, Inc.
b. Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2018, Pedoman Perencanaan Teknik Terinci Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat SPALD-T: Buku B, Jakarta: Kementrian PUPR.
c. Metcalf & Eddy Inc., 2004, Wastewater Engineering Treatment and Reuse Fourth Edition, Boston: McGraw-Hill Companies, Inc.
d. Metcalf & Eddy, Inc., AECOM. (2014). Wastewater Engineering:
Treatment and Resource Recovery (5th ed.). McGraw-Hill Education.
e. Qasim, S.R., 1985, Wastewater Treatment Plants: Planning, Design, and Operation, Second Edition, Routledge: Abingdon-on-Thame.
f. Said, N.I., dan Yudo, S., 2006, Rancang Bangun Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) Ayam Dengan Proses Biofilter, JAI 2(1), 83-91.
g. Voutchkov, N., 2017, Fundamentals of Clarifier Performance Monitoring and Control, SunCam Online Education Course.
h. Water Environment Foundation, 2011, Biofilm Reactors: WEF Manual of Practice no. 35, Virginia: WEF Press.
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
HANIF FAISOL NUROFIQ