PELAKSANAAN PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA
(1) RKBMN disusun oleh Kuasa Pengguna Barang dan disampaikan secara berjenjang kepada Pengguna Barang.
(2) Usulan RKBMN dari Kuasa Pengguna Barang dilakukan penelitian dan konsolidasi oleh PPB-EI untuk kemudian disampaikan kepada Pengguna Barang.
(3) Penyampaian usulan RKBMN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh Pengguna Barang.
(4) Usulan RKBMN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memuat informasi berupa unit BMN yang direncanakan untuk dilakukan pengadaan, pemeliharaan, Pemanfaatan, Pemindahtanganan, dan Penghapusan.
(5) Perencanaan pemeliharaan BMN sebagaimana dimaksud pada ayat (4) termasuk kegiatan pengasuransian BMN.
(6) Tata cara Perencanaan Kebutuhan BMN dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
(1) Pengadaan BMN dilaksanakan berdasarkan prinsip efisien, efektif, transparan dan terbuka, bersaing, adil dan akuntabel.
(2) Tata cara Pengadaan BMN dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
(1) Penggunaan BMN dibatasi hanya untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi Kuasa Pengguna Barang.
(2) Kuasa Pengguna Barang harus melaporkan BMN Idle kepada Pengguna Barang.
(3) Pelaksanaan Penggunaan BMN meliputi:
a. penetapan status Penggunaan BMN;
b. penetapan status Penggunaan BMN yang dioperasikan oleh pihak lain;
c. Penggunaan sementara BMN;
d. Penggunaan bersama BMN;
e. pengalihan status Penggunaan BMN; dan
f. Alih Kepengurusan BMN.
(4) Tata cara Penggunaan BMN dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Penyampaian usulan persetujuan Penggunaan BMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e kepada Pengelola Barang dilakukan setelah mendapatkan Izin Prinsip dari Pengguna Barang.
(2) Dalam hal Alih Kepengurusan BMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf f merupakan Alih Kepengurusan BMN yang bukan merupakan antarunit PPB-EI, tidak dibutuhkan Izin Prinsip.
(1) Pemanfaatan BMN dilakukan dengan:
a. tidak mengganggu pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian;
b. memperhatikan kepentingan negara dan kepentingan umum;
c. tidak mengubah status kepemilikan BMN; dan
d. telah dilakukan penetapan status Penggunaan.
(2) Pemanfaatan BMN dapat dilakukan setelah memperoleh Izin Prinsip dari Pengguna Barang sesuai kewenangannya.
(3) Pemanfaatan BMN yang telah mendapat Izin Prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus diajukan kepada Pengelola Barang untuk mendapat persetujuan.
Bentuk Pemanfaatan BMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 berupa:
a. sewa;
b. pinjam pakai;
c. kerja sama Pemanfaatan;
d. bangun guna serah/bangun serah guna;
e. kerja sama penyediaan infrastruktur; dan
f. kerja sama terbatas untuk pembiayaan infrastruktur.
(1) Objek Pemanfaatan BMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 meliputi:
a. tanah dan/atau bangunan; dan/atau
b. selain tanah dan/atau bangunan.
(2) Objek Pemanfaatan BMN berupa tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat dilakukan untuk sebagian atau seluruhnya.
(3) Dalam hal objek Pemanfaatan BMN berupa sebagian tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), luas tanah dan/atau bangunan yang menjadi objek Pemanfaatan BMN sebesar luas bagian tanah dan/atau bangunan yang dimanfaatkan.
(4) Dalam hal Pemanfaatan BMN dalam rangka penyediaan infrastruktur, mekanisme Pemanfaatan yang digunakan dapat berupa:
a. sewa dalam rangka penyediaan infrastruktur;
b. kerja sama Pemanfaatan dalam rangka penyediaan infrastruktur; atau
c. kerja sama penyediaan infrastruktur.
Tata cara Pemanfaatan BMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, Pasal 20, dan Pasal 21 dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kelima Pemindahtanganan Barang Milik Negara
(1) Pemindahtanganan BMN dilakukan dengan cara:
a. penjualan;
b. tukar menukar;
c. Hibah; atau
d. penyertaan modal pemerintah pusat.
(2) Objek Pemindahtanganan BMN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. tanah dan/atau bangunan; dan/atau
b. selain tanah dan/atau bangunan.
(1) BMN dapat dipindahtangankan dalam hal:
a. tidak diperlukan bagi penyelenggaraan tugas pemerintahan negara; dan
b. telah dilakukan penetapan status Penggunaan, kecuali untuk BMN yang tidak memerlukan penetapan status Penggunaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) BMN yang akan dilakukan Pemindahtanganan harus dilakukan Penilaian kecuali Pemindahtanganan dalam bentuk Hibah.
(3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan nilai wajar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
(4) Dalam hal Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh tim yang ditetapkan oleh Pengguna Barang tanpa melibatkan penilai, hasil Penilaian BMN hanya merupakan nilai taksiran.
(5) Usulan Pemindahtanganan BMN yang persetujuannya merupakan kewenangan Pengelola Barang dapat dilakukan setelah memperoleh Izin Prinsip dari Pengguna Barang, kecuali Pemindahtanganan BMN yang kewenangan persetujuannya berada pada Pengguna Barang.
(6) Dalam hal Pemindahtanganan BMN merupakan kewenangan Pengguna Barang, persetujuan diterbitkan oleh Pengguna Barang.
Tata cara Pemindahtanganan BMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 dan Pasal 24 dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Pengamanan BMN meliputi:
a. pengamanan administrasi;
b. pengamanan fisik; dan
c. pengamanan hukum.
(2) Dalam pengamanan BMN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, Kuasa Pengguna Barang harus melakukan:
a. pemutakhiran data BMN secara berkala yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
b. membuat dan mengarsipkan salinan digital atas setiap dokumen kepemilikan BMN.
(3) Dalam pengamanan BMN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dapat dilakukan Asuransi BMN.
(4) Dokumen kepemilikan BMN berupa sertipikat tanah asli wajib disimpan di Biro.
(5) Dokumen kepemilikan BMN berupa bukti pemilikan kendaraan bermotor asli dan fotokopi surat tanda nomor kendaraan wajib disimpan oleh bendahara pada satuan kerja terkait.
(6) Tata cara pengamanan BMN dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Biaya pemeliharaan Barang Milik Negara dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja negara.
(2) Tata cara pemeliharaan BMN dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Pemusnahan dilakukan terhadap BMN berupa:
a. bangunan; dan/atau
b. selain tanah dan/atau bangunan.
(2) Pemusnahan BMN dilakukan dalam hal:
a. tidak dapat digunakan;
b. tidak dapat dimanfaatkan;
c. tidak dapat dipindahtangankan; atau
d. terdapat alasan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Usulan Pemusnahan BMN yang persetujuannya merupakan kewenangan Pengelola Barang dilakukan setelah memperoleh Izin Prinsip dari Pengguna Barang.
(4) Dalam hal Pemusnahan BMN merupakan kewenangan Pengguna Barang, persetujuan diterbitkan oleh Pengguna Barang.
(5) Tata cara Pemusnahan BMN dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Penghapusan dilakukan terhadap BMN berupa:
a. tanah dan/atau bangunan; dan/atau
b. selain tanah dan/ atau bangunan.
(2) Usulan Penghapusan BMN yang persetujuannya merupakan kewenangan Pengelola Barang dilakukan setelah memperoleh Izin Prinsip dari Pengguna Barang.
(3) Dalam hal usulan Penghapusan BMN merupakan kewenangan Pengguna Barang, persetujuan diterbitkan oleh Pengguna Barang.
(4) Penghapusan BMN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan dengan menerbitkan keputusan.
(5) Pelaksanaan Penghapusan BMN sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus dilaporkan kepada Pengguna Barang.
(6) Tata cara Penghapusan BMN dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Kegiatan Penatausahaan BMN meliputi:
a. pembukuan;
b. inventarisasi; dan
c. pelaporan.
(2) Pembukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi pendaftaran dan pencatatan BMN dalam daftar barang kuasa pengguna dengan dokumen sebagai berikut:
a. surat perintah membayar;
b. surat perintah pencairan dana;
c. berita acara serah terima;
d. surat pelepasan hak;
e. kuitansi;
f. faktur; dan/atau
g. dokumen lainnya yang disetarakan dengan dokumen perolehan BMN.
(3) Inventarisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas kegiatan pendataan, pencatatan, dan pelaporan hasil pendataan BMN.
(4) Inventarisasi BMN sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dilakukan oleh Kuasa Pengguna Barang melalui:
a. sensus untuk aset tetap paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun; dan
b. Opname Fisik untuk persediaan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) semester dan konstruksi dalam pengerjaan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.
(5) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c harus dilakukan secara berjenjang secara semesteran dan tahunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
(6) Catatan atas laporan BMN harus diungkapkan secara memadai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
(1) Objek dalam Penatausahaan BMN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 meliputi:
a. semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban anggaran pendapatan dan belanja negara; dan
b. semua barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah terdiri atas:
1. barang yang diperoleh dari Hibah/sumbangan atau yang sejenisnya;
2. barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan perjanjian/kontrak;
3. barang yang diperoleh sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; atau
4. barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
(2) Objek Penatausahaan BMN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diklasifikasikan menjadi:
a. aset lancar berupa barang persediaan;
b. aset tetap yang meliputi:
1. tanah;
2. peralatan dan mesin;
3. gedung dan bangunan;
4. jalan, irigasi, dan jaringan;
5. aset tetap lainnya;
6. konstruksi dalam pengerjaan; dan
7. aset konsesi jasa;
c. properti investasi; dan
d. aset lainnya yang meliputi:
1. aset kemitraan dengan pihak ketiga;
2. aset tak berwujud; dan
3. aset tetap yang dihentikan dari Penggunaan.
(3) Tata cara Penatausahaan BMN dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Pengawasan dan pengendalian BMN dilakukan oleh Pengguna Barang, PPB-EI, dan Kuasa Pengguna Barang terhadap:
a. BMN;
b. pelaksanaan pengelolaan BMN; dan/atau
c. pejabat atau pegawai yang melakukan pengelolaan/pengurusan BMN.
(2) Pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pemantauan dan penertiban.
(3) Pemantauan dan penertiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang dilakukan oleh Pengguna Barang meliputi pelaksanaan:
a. Penggunaan;
b. Pemanfaatan;
c. Pemindahtanganan;
d. Penatausahaan; dan
e. pemeliharaan dan pengamanan, atas BMN yang berada di bawah penguasaannya.
(4) Pemantauan oleh Pengguna Barang, PPB-EI, dan Kuasa Pengguna Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pemantauan kesesuaian antara pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Pemindahtanganan, Penatausahaan, pemeliharaan, dan pengamanan atas BMN yang berada dalam penguasaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) terdiri atas:
a. pemantauan periodik; dan
b. pemantauan insidentil.
(6) Petunjuk teknis mengenai tata cara pelaksanaan pengawasan dan pengendalian BMN ditetapkan oleh Menteri.